Bagaimana Kami Mendidik Siswa Kami di Royal Prime School? Part 2
6. Practical Life (Kecakapan Hidup)
- Dorongan belajar berasal dari dalam diri siswa itu sendiri dengan seringnya melakukan kegiatan dan melalui pengalaman sukses yang dirasakannya.
- Siswa belajar melakukan kegiatan normal sehari-hari, seperti menyapu lantai, mengepel, mencuci piring, memasak, bertukang, berkebun, menjahit, menggunakan printer, komputer, berbelanja, dan lain sebagainya.
- Siswa diajar untuk peduli terhadap diri sendiri dan sekitarnya. Siswa belajar mengurus dirinya sendiri melalui kegiatan-kegiatan sehari-hari. Kemandirian adalah nilai yang selalu ditekankan dalam seluruh pembelanjaran.
7. Everyday Discovery (Penemuan Baru Setiap Hari)
- Siswa mencintai belajar. Mereka menganggap belajar seperti sebuah permainan yang menantang kemampuan berpikir dan bertindak mereka. Hal-hal sederhana yang mereka temukan setiap harinya menambahkan pengalaman-pengalaman baru dalam kehidupan kanak-kanak mereka.
- Siswa tidak membutuhkan persaingan atau insentif untuk memacu dirinya. Kerja keras dan keberhasilan-keberhasilan yang dialaminya secara pribadi menumbuhkan citra diri yang sehat yang menjadikannya pribadi yang ceria dan juga kuat.
8. Joyful Learning (Pembelajaran yang Menyenangkan)
- Siswa belajar tanpa merasa terpaksa. Mereka dapat memilih sendiri kegiatan mana yang akan dilakukan. Mereka dapat memutuskan untuk berhenti jika sudah merasa cukup atau terus bekerja sampai selesai. Guru akan membantu mengarahkan apabila siswa belum dapat memutuskan kegiatan apa yang akan dilakukannya.
- Siswa dapat mengembangkan ketertarikannya terhadap bidang tertentu sedalam, setinggi, dan seluas apapun itu, sekalipun hal tersebut mungkin melampaui batasan kurikulum yang baku. Guru membimbing siswa dalam pencariannya akan fakta atau kebenaran yang ingin diketahuinya.
- Pelajaran tentang nilai-nilai luhur, sopan-santun, dan penyelesaian konflik terintegrasi dalam “Montessori Peace Curriculum” setiap harinya.
9. Leadership & Collaboration (Kepemimpinan dan Kerjasama)
- Menggabungkan siswa kelas 1,2, 3 dalam satu kelas dan 4,5,6 dalam satu kelas lainnya. Siswa yang lebih muda dapat belajar dari siswa yang lebih senior. Siswa yang lebih senior menjadi pemimpin dalam kelompoknya. Sistem seperti ini memungkinkan terjadinya interaksi sosial dimana nilai-nilai persahabatan, kepemimpinan, dan kerjasama bertumbuh serta berkembang.
- Tidak diberlakukan sistem ranking. Setiap siswa dididik untuk menggali kelebihan-kelebihannya sendiri dan melihat yang terbaik dari diri orang lain. Suasana persaingan digantikan dengan semangat saling mendukung dan bekerjasama.
10. Foundation for Science (Dasar bagi Sains)
- Beberapa pelajaran diajarkan secara serentak dalam sebuah topik. Misalnya pada saat mempelajari proses terjadinya alam semesta, di saat yang sama siswa belajar mengenai struktur geografi bumi kuno, kimia fisika, sistem bilangan di atas triliun, sistem tata surya, dan lain sebagainya yang terkait dengan topik tersebut.
- Siswa dibiasakan dengan istilah-istilah dan nama-nama ilmiah serta eksperimen-eksperimen yang bersifat pengenalan, yang menyediakan dasar bagi siswa untuk pengalaman ilmiah berikutnya yang lebih kompleks.
- Siswa belajar melakukan langkah-langkah ilmiah terhadap pikiran kritisnya. Guru membimbing siswa untuk mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul, dan bukannya memberi jawaban langsung atas pertanyaan tersebut.
No comments:
Post a Comment